Sinopsis “Diantara Lumpur, Mainanku Hilang”

Terakhir diperbarui pada 06/03/2018

Judul : Diantara Lumpur, Mainanku Hilang
Pengarang : Panca Javandalasta
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : 2012
Deskripsi Fisik : 329 hlm
Sinopsis

Namaku Bayu,  terlahir dengan nama Bayu Yudistira. Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana di Porong,  sidoarjo. Rambutku agak ikal,  tubuhku tidak terlalu tinggi untuk anak-anak seumuranku. Mungkin tubuhku terhambat pertumbuhannya karena kekurangan gizi,  tumbuh sebagai anak korban semburan lumpur. Aku merupakan salah satu dari ratusan anak-anak porong yang berjuang untuk hidup setelah bencana lumpur. Miris memang melihat kondisiku yang harus hidup kurang baik di pengungsian.  Segitu sulitkah hidup kami sang anak-anak korban bencana meluapnua lumpur Porong,  hingga untuk bermain saja harus terhalangi luasnya kubangan lumpur yang menenggelamkan desa kami.  Sepertinya sudah tidak ada lahan kosong di negeri ini sebagai tempat untuk bermain kami,  kami seolah tidak tahu lagi harus bermain di mana. Dulu,  sebelum tergenang luapan lumpur, tempat yang kami jejaki sekarang ini adalah tempat bermai kami. Keadaan itu berubah,  saat kami hanya bisa bermain di lahan seluas kurang lebih 15 meter dg tinggi hingga 7 sampai 10 meter.  Bahkan,  banyak sekali truk besar pengangkut tanah yang berlalu-lalang tiada henti untuk menambal atau menambahkan ketinggian tanggul. Bahaya juga seakan mengintai kami terus menerus ketika kami harus bermain di  lahan yang dikelilingi tanggul.  Tanah yang kami injak ini twrmasuk tanah yang labil, kalau saja kami tidak hati-hati dan bermain terlalu ke pinggir,  bisa saja kani terperosok bersamaan tanah yang longsor. Kalau kami terjatuh ke dalam kubangan lumpur. Rasanya pasti seperti terjatuh pada sebuah panci berukuran raksasa yang di dalamnya berisi air yabg dipenuhi gas yang sangat menyengat hidung kami. “kami berbeda.  Kami adalah sekumpulan anak yang kata orang-orang : tidak punya masa depan.  Lihat saja, biasanya di pagi hari seperti ini setiap anak kecil seumuran kami pasti sudah berada di sekolah.” Diantara LUMPUR,  bermain dan sekolahku HILANG…

Inilah salah satu kisahku dari ratusan anak-anak porong yang berjuang untuk hidup setelah bencana lumpur.

Mau tau kisah kelanjutannya? 

Datang aja ke perpustakaan daerah..

Ditunggu ya,

-Cpy-